Rabu, 17 Desember 2008

Dientot Bapak Dosen Waktu Liburan

Pak Anto menepati janjinya. Beberapa bulan setelah aku dientotnya di ruang karaoke di resto Aku diajaknya untuk menemaninya. “Pak, nanti Ines ngapain kalo bapak kerja”, tanyaku. “Kita ke Denpasar dulu, besoknya aku ke Mataram dan kamu stay di Denpasar aja. Selesainya urusanku di Mataram, kita lanjutin lagi di acara kita di Denpasar”, jawabnya. “Bapak lama gak di Mataramnya, entar Ines bete sendirian di hotel”, kataku lagi. “Kamu kan bisa jalan2 ke pantai, banyak atraksinya kok”. Pada hari H nya kita berangkat, sudah siang waktu take offnya. “Kok siang banget sih berangkatnya pak”, tanyaku. “Aku kan mesti ngeberesin kerjaanku dulu, mau ditinggal beberapa hari”. Sampai di Ngurah Rai, langsung kita ngebut ke hotel yang sudah di booknya. Hotelnya tidak terlalu besar tapi nyaman, lokasinya di pinggir pantai. Setelah cek in, ak anto mengajakku ngeliat2 sekitar hotel. Pool nya hotel dipinggir pantai sehingga seakan menyatu dengan laut. Tempatnya rindang karena banyak pepohonan yang menaunginya. Karena kita perginya week day dan sudah menjelang sore, poolnya kosong. Di area pantai, tidak banyak lagi tamu hotel yang berlalu lalang. Ada bebarapa permainan yang asik yang tersedia. Kemudian dia mengajakku jalan2, sekitar hotel. “Kamu punya bikini gak Nes”, tanyanya. “Gak punya pak, kan daleman Ines semuanya model bikini”, jawabku. “Ya udah kita beli bikini yuk buat kamu”, katanya lagi. Kita menuju ke satu toko yang kelihatannya menjual pakaian buat santai di pantai. Aku memilih bikini yang seksi dan mini. “Ini bagus gak pak”, tanyaku. “Bagus, sexy sekali,” jawabnya. Aku memilih beberapa bikini, kemudian aku mencari pakaian, juga daleman yang seksi, minim dan tipis. Dalemannya juga model bikini, yaitu yang ditaliin bra dan cd nya, yang modelnya aku belum punya. Dia membayari semuanya, wah royal juga dia. Mungkin ini imbalan atas kenikmatan yang akan aku berikan ke dia nanti malam. Setelah itu aku diajaknya cari makanan, karena hari sudah mulai gelap. Kenyang, karena sudah ngantuk aku mengajak kembali ke hotel.

Di kamar, kita ngobrol ngalor ngidul. “Nes, bikininya gak dicoba”, tanyanya sambil tersenyum. “Kenapa, bapak pengen liat Ines pake bikini, kan udah ngeliat Ines telanjang bulat”, jawabku centil. Dia melotot melihat aku muncul dengan bikiniku yang minim dan seksi itu. Toketku seakan mau
tumpah dari branya yang minim sekali. Demikian pula jembutku berhamburan dari cd bikini yang model g string itu. “Nes, duduk disebelahku, kamu mau gak aku pijitin”, tanyanya sambil menarik tanganku. “Emangnya bapak bisa mijit, kalo ngeremes sih ahlinya”, jawabku sambil duduk membelakanginya. Dia mulai memijit pelan keningku dari belakang. Tak terasa dari kening turun ke kuduk. Aku hanya terpejam saja menikmati pijitannya, turun lagi ke pundak. “Enak pak”, kataku. “Memangnya bapak punya side job jadi tukang pijit ya”, godaku. Dia diam saja, tapi tangannya meluncur ke toketku. Jarinyanya mulai menelusuri toketku, dielus2nya dengan lembut. Aku terdiam, napasku mulai memburu terengah. Jarinya diselipkan ke braku dan mengkilik2 pentilnya. Pentilku langsung mengeras, “Paak”, lenguhku. Dia langsung saja meremes2 toketku dengan penuh napsu. Aku bersandar di dadanya yang bidang. Dia mulai menciumi leherku sementara kedua toketku terus saja diremes2, sehingga napsuku makin berkobar. Kemudian dia minta aku berbalik sehingga kami duduk berhadapan. Aku tak menunggu lama, dia segera mengecup bibirku. Kubalas dengan ganas. Bibirku dikulumnya, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tanganku segera turun mencari kontolnya. Kuusap2, terasa sekali kontolnya sudah ngaceng berat, keras sekali. Segera ikat pinggangnya kubuka, celananya kubuka. Dia berdiri sehingga celana panjangnya meluncur ke lantai. Kontolnya yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD nya yang mini. Kami segera bergelut. Dia terus meremas-remas toketku sementara aku mengocok kontolnya. “Pak keras banget”, kataku sambil jongkok didepannya, melepas cdnya dan menciumi kontolnya dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. “Aah Nes, kamu pinter banget bikin aku nikmat”, erangnya, “aaaduuuuuhh Nes, enak banget emutanmu”. Kontolnya kujilati seluruhnya kemudian kumasukkan ke mulutku, kukulum dan kuisep2. Kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya di mulutku. Akhirnya dia gak tahan lagi. Aku dibaringkannya diranjang. Sambil terus meremas2 toketku tangan satunya nyelip ke balik cd bikiniku yang g string itu. Otomatis pahaku mengangkang, sehingga dia dengan mudah mempermainkan jembutku yang lebat. “Pak, geli”, erangku. “Geli apa nikmat Nes”, tanyanya. “Dua2nya pak, Ines dientot dong pak, udah kepengin banget nih”, kataku to the point. Tangannya menyusup ke punggungku sambil mengecup bibirku. Tali pengikat braku ditariknya sehingga toketku membusung menantang untuk diremas dan dikenyot pentilnya, tanpa penutup lagi. Ikatan CD bikiniku ditariknya dengan mulutnya sehingga lepaslah semua penutup tubuhku yang minim. “Nes kamu napsuin banget deh”, katanya.

Pak Anto langsung saja menindihku. Kontolnya diarahkan ke belahan nonokku yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu dia menekan kontolnya sehingga kepala kontolnya mulai menerobos masuk nonokku. Aku mengerang keenakan sambil memeluk punggungnya. Dia kembali menciumi bibirku. Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. Sementara itu dia terus menekan pantatnya pelan2 sehinggga kepala kontolnya masuk nonokku makin dalam dan bless…… kontolnya sudah masuk setengahnya kedalam nonokku. “Aah, kontol bapak nikmat banget deh”, erangku sambil mencengkeram punggungnya. Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya sehingga kontol besarnya langsung ambles semuanya di nonokku. “Pak, ssh, enak pak, terusin”, erangku. Aku menggeliat2 ketika dia mulai mengeluarmasukkan kontolnya di nonokku. Aku mengejang2kan nonokku meremes2 kontolnya yang sedang keluar masuk itu. “Nes, nikmat banget empotan nonok kamu”, erangnya. Dia memelukku dan kembali menciumi bibirku, dengan menggebu2 bibirku dilumatnya, aku mengiringi permainan bibirnya dengan membalas mengulum bibirnya. Terasa lidahnya menerobos masuk mulutku. Dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk makin cepat dan keras, aku menggeliatkan pinggulku mengiringi keluar masuknya kontolnya di nonokku. Setiap kali dia menancapkan kontolnya dalam2 aku melenguh keenakan. Terasa banget kontolnya menyesaki seluruh nonokku sampe kedalem. Karena lenguhanku dia makin bernapsu mengenjotkan kontolnya. Gak bisa cepet2 karena kakiku masih melingkar pinggangnya, tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di nonokku. Kenikmatan terus berlangsung selama dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk, akhirnya aku gak tahan lagi. Jepitan kakiku di pinggangnya terlepas dan kukangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah gerakan kontolnya keluar masuk nonokku dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian aku memeluk punggungnya makin keras “Pak, Ines mau nyampe pak”. “Kita bareng ya Nes”, katanya sambil mempercepat enjotannya. “Pak, gak tahan lagi pak, Ines nyampe pak, aakh”, jeritku saking nikmatnya. Kakiku kembali kelingkarkan di pinggangnya sehingga kontolnya nancep dalam sekali di nonokku. Nonokku otomatis mengejang2 ketika aku nyampe sehingga bendungan pejunya bobol juga. “Akh Nes, aku ngecret”, dia mengerang sambil mengecretkan penjunya beberapa kali di nonokku. Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, aku dipeluknya sementara kontolnya masih tetep nancep di nonokku. aku menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, dia mencabut kontolnya dari nonokku. Kontolnya berlumuran lendir nonokku dan pejunya sendiri. Dia berbaring disebelahku, “Nes, kamu nikmat banget deh kalo dientot. Kamu yang paling nikmat dari semua cewek yang pernah aku entot”, katanya sambil mengelus2 pipiku.

Hari sudah gelap ketika kami selesai ngentot. Aku merasa lapar lagi, padahal tadi sebelum balik ke hotel baru makan. “Pak, Ines laper lagi pak”, kataku. “Iya Nes, aku juga laper lagi nih, abis kerja keras sih”, jawabnya. “Mandi yuk” ajaknya. Kami bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan berebutan sabun, dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Aku duduk dipangkuannya dan tangannya mengusap2 pahaku. “Kamu cantik sekali, Nes”, katanya. Tangannya pidah ke bukit nonokku mempermainkan jembutku yang lebat. Dia bisa melakukan itu
karena aku mengangkangkan pahaku. Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. “Geli pak”, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.”Toket kamu besar ya Nes, kenceng lagi”, katanya. “Bapak suka kan”, jawabku. “Ya Nes, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku. DIa kemudian mencium bibirku. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi. Kami saling mengeringkan badan, berpakaian - aku mengenakan pakaian yang dibelikannya tadi. “Bagus gak pak”, kataku memamerkan pakain baruku. “Bagus Nes, kamu pake apa juga bagus, kamu cantik banget sih”. jawabnya. “Kalo gak pake baju pak”, kataku lagi. “Lebih bagus lagi, napsuin”, jawabnya. “Makan yu”. Kami keluar kamar sambil berpelukan, mencari tempat yang romantis untuk makan malam. Sehabis makan, kami mgobrol di pub dekat hotel untuk menikmati suasana malam. Hampir tengah malem baru balik ke hotel.

Di kamar, aku kembali mengenakan bikiniku yang lain, dia sudah berbaring diranjang hanya mengenakan cd. Kontolnya yang belum aku apa2in sudah ngaceng berat, nongol keluar dari bagian atas cd minimnya.Aku menjatuhkan dirinya dipelukan dadanya yang bidang. Segera dia mengecup bibirku, beralih ke leherku dan kemudian turun ke toketku. Toketku diremes2nya, aku terengah, napsuku berkobar lagi. Braku disingkapkan sehingga pentilku nongol dan diemutnya. Ikatan braku diuraikannya sehingga dia makin mudah meremas toket dan mengemut pentilku. Tangan satunya menjalar kebawah, menyelip ke balik cd bikiniku yang minim dan langsung menerobos lebatnya jembutku dan mengilik2 itilku. “Aakh pak, pinter banget ngerangsang Ines”, erangku. Aku mengangkangkan pahaku supaya kilikannya di itilku makin terasa. Kilikan di itilku membuat aku makin liar. Tanganku mencari kontolnya, kuremes dan kepalanya yang nongol kukocok2. Aku bangkit dari pelukannya dan membuka cdnya. Kontolnya langsung tegak berdiri dengan kerasnya. Kontolnya kuraih, aku jilati. Pertama cuma kepalanya aku masukkan ke mulutku dan kuemut2. Dia meraih pantatku dan menarik aku menelungkup diatasnya. Ikatan cdku dilepasnya sehingga terpampanglah nonokku di depan mukanya. Dia mulai menjilati nonokku,aku menggelinjang setiap kali dia mengecup bibir nonokku. Dengan kedua tangannya, dia membuka nonokku pelan2, terasa lidahnya menjulur menjilati bagian dalam bibir nonokku. Aku melepaskan emutanku di kontolnya dan mengerang hebat, “Pak aakh”. Pantatku menggelinjang sehingga mulutnya melekat erat di nonokku.
“Terus pak aakh”, erangku lagi, kemudian terasa itilku yang menjadi sasaran berikutnya, aku makin mengerang keenakan. Nonokku makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya aku udah napsu banget. Cukup lama dia mengemut itilku dan akhirnya “Pak, Ines nyampe pak, aakh”, erangku. “Pak nikmat banget deh, belum dientot udah nikmat begini paak”. Aku memutar badanku kesamping dan berbaring disebelahnya. Dia bangun dan mencium bibirku. Dia mengambil soft drink dan diberikannya kepadaku. Aku minum sedikit untuk meredakan napasku yang ngos ngosan.

Kemudian aku dinaikinya, ditancapkannya kontolnya kenonokku dan didorongnya masuk pelan2, “Pak, enak, masukin semuanya pak, teken lagi pak, akh”, erangku merasakan nikmatnya kontolnya nancep lagi di nonokku. Pak Anto mengenjotkan keluar masuk, ketika kontolnya sudah nancep kira2 separonya, dia menggentakkan pantatnya kebawah sehingga langsung aja kontolnya ambles semuanya di nonokku. “Pak, aakh”, erangku penuh nikmat.Dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk makin cepet, sambil menciumi bibirku sampe akhirnya, “Pak, Ines nyampe pak, ooh”, aku mengejang2 saking nikmatnya. Nonokku otomatis ikut mengejang2. Dia meringis2 keenakan karena kontolnya diremes2 nonokku dengan keras, tapi dia masih perkasa. Kemudian dia mencabut kontolnya dan minta aku nungging. Dia menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilati dan mengusapi pantatku. Mulutnya terus merambat ke selangkanganku.
Aku mendesis merasakan sensasi waktu lidahnya menyapu naik dari nonokku ke arah pantatku. Kedua jarinya membuka bibir nonokku dan dia menjulurkan lidahnya menjilati bagian dalem nonokku. Aku makin mendesah gak karuan, tubuhku menggelinjang. Ditengah kenikmatan itu, dia dengan cepat mengganti lidahnya dengan kontolnya. Aku menahan napas sambil menggigit bibir ketika kontol besarnya kembali nancep di nonokku. “Pak”, erangku ketika akhirnya kontolnya ambles semuanya di nonokku. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Aku kembali mendesah2 saking enaknya. Toketku diremes2nya dari belakang, tapi enjotan kontolnya jalan terus. Ditengah kenikmatan, dia mengganti posisi lagi, dia
duduk di sofa dan aku duduk dipangkuannya membelakanginya. kontolnya sudah nancep semuanya lagi di nonokku. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu menolehkan kepalaku sehingga dia langsung melumat bibirku. Aku semakin cepat menaik turunkan badanku sambil terus ciuman dengan liar. Tangannya gak bosen2nya ngeremes toketku. Pentilku yang sudah keras itu diplintir2nya. Gerakanku main liar saja, aku makin tak terkendali menggerakkan badanku, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga kontolnya nancep dalem banget. “Pak, Ines dah mau nyampe lagi pak, aduh pak, enak banget”, erangku. Tau aku udah mau nyampe, dia
mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga kontolnya yang masih perkasa lepas dari nonokku. “Kok brenti pak”, tanyaku protes. Aku ditelentangkan lagi diranjang, aku dinaikinya dan kembali ditancepkannya kontolnya kedalam nonokku. Dengan sekali enjot, kontolnya sudah ambles
semuanya. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat. Nonokku mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 kontolnya, tandanya aku dah hampir nyampe lagi. Dia makin gencar mengenjotkan kontolnya, dan “Pak, Ines nyampe pak, akh”, jeritku. Diapun merasakan remesan nonokku karena nyampe. enjotannya makin cepat saja sehingga akhirnya, “Nes…” dia
berteriak menyebut namaku dan terasa pejunya ngecret dengan derasnya di nonokku. “Pak, nikmat banget ya malem ini”, tanyaku. Dia mencabut kontolnya dan terkapar disebelahku. Tak lama kemudian aku terlelap karena lemes dan nikmat.

Aku terbangun karena sinar matahari yang menerangi kamar. Dia ternyata sudah rapi dan membangunkanku dengan membuka tirai jendela. “Enak bener tidurnya Nes, aku mau berangkat ke Mataram. Nanti malem aku balik lagi ya”, katanya sambil meninggalkan kamar. Aku masih terbaring bermalas2an di ranjang. Aku masih terkapar beberapa lama di ranjang, kemudian aku mandi dan turun ke coffee shop untuk makan pagi. Di coffee shop aku terpesona melihat pemandangan di kolam renang, kolam dengan air yang membiru dan dikelilingi pepohonan rindang sehingga teduh sekali di sekitar kolam renang. Saat itu kolamnya masih sepi. Timbul ide ku untuk bermalas2an di kolam renang saja. Aku kembali kekamar, mengenakan bikiniku yang tidak terlalu minim untuk menyembunyikan jembutku agar tidak terlalu ngintip keluar, aku mengenakan sarung dan turun lagi ke kolam renang. Aku memilih tempat yang strategis sehingga dapat mengawasi seluruh kolam, pesan minuman dan berbaring saja didipan, sarung kulepaskan. Aku mengenakan kacamata hitam. Pesanan minumanku datang dan langsung kucicipi. Kemudian aku hanya berbaring saja melamun, lama2 kantuk kembali menyerangku, sehingga tanpa terasa aku tertidur lagi. Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara yang menggeser dipan disebelahku. Aku melihat ada cowok ganteng banget dan badannya kekar. Ngantukku langsung hilang melihat ketampananannya. Walaupun wajahnya bule, tapi kulitnya gak putih tapi agak kecoklatan dan rambutnya hitam. Dia cuma pake celana pendek gombrong. Dadanya telanjang dan berbulu. “Sori, aku mengganggu tidurmu?”, tanyanya sambil tersenyum. “Namaku Juan, kamu?”. Dia bicara bahasa Inggris. Aku membuka kacamataku, mataku masih memperlihatkan keterpesonaannku. Dia hanya tersenyum kutatap seperti itu. “Bisa bicara bahasa?” tanyaku. “Bisa, walaupun tidak lancar. Aku dari Mexico, sudah lama aku tinggal di Indonesia karena memang aku bekerja di salah satu kontraktor minyak di Kalimantan Timur. Kamu sendiri?”, jawabnya sambil bertanya. “Aku Ines, aku keseini menemani bos ku. Karena bosku sedang ke Mataram, aku bisa santai”, jawabku. “Boleh aku temani?” tanyanya lagi. “Dengan senang hati”, jawabku. “Ines, kamu cantik dan seksi sekali”, katanya memuji. “Aku suka sekali sama perempuan Indonesia, kulitnya tidak putih dan montok2″, katanya sambil tersenyum. Kami terlibat dalam obrolan yang seru, ngantukku langsung hilang. Tanpa terasa sudah menjelang siang. Dia mengajakku makan siang, “Pesan saja dan kita makan di sini, OK?” tanyanya. “OK”, jawabku. Kami pesan makanan dan terus ngobrol sampai pesanan makanan datang. Selesai makan, dia mengajakku nerusin ngobrol di kamarnya. Aku sudah menduga apa maksudnya. Aku mengiyakan saja, memakai sarungku dan mengikuti dia naik kekamarnya.

Di kamar, Juan berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya. “Nes, aku napsu sekali liat badan kamu”, katanya terus terang. Langsung kulirik daerah kontolnya, kelihatannya sudah mulai ngaceng karena kelihatan ngegelembung. Dia mengelus2 punggungku, terus tangannya pindah mengelus pahaku, merayap makin dalam sehingga menggosok nonokku dari luar CD bikiniku. Aku mengangkangkan pahaku sehingga jarinya menggosok2 belahan nonokku, tetap dari luar cd. “Ssh Juan”, erangku. “Nes, kamu maukan ngentot dengan aku”, tanyanya sambil tersenyum, jarinya terus saja mengelus belahan nonokku dari luar. Dia mulai menjilati pahaku, jilatannya perlahan menjalar
ketengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei ketika kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku yang disingkirkan dengan jarinya lalu menyentuh bibir nonokku. Bukan hanya bibir nonokku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang nonokku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku
mempercepat naiknya napsuku. Sesaat kemudian, dia menarik lepas ikatan cd bikiniku. Matanya seperti mau copot melihat nonokku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Dia mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya
yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke toketku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas toketku dengan gemasnya. “Nes, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali,
pasti napsu kamu besar ya” tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik. Aku hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Dia makin getol, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus nonokku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas toketku dengan pentil yang sudah mengeras. Aku merasakan kontol keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Dia kelihatan sangat bernafsu melihat toketku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin pentilnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leherku, terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai kecupan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada toketku mengencang atau jarinya mengebor nonokku lebih dalam. Kecupannya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas. Dia bergerak lebih cepat dan melumat bibirku. Mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan
lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam mulutnya.

Setelah puas berciuman, dia melepaskan dekapannya dan melepas kolor celana pendeknya. Maka menyembullah kontolnya yang sudah ngaceng dari tadi. Aku melihat takjub pada kontol yang begitu besar dan berurat, belum pernah aku melihat kontol sebesar dan sepanjang kontolnya. Ini kontol terbesar dan terpanjang yang pernah kulihat. Kebayang besarnya kenikmatan yang akan aku dapatkan kalo kontol extra besar itu keluar masuk di nonokku. Akupun pelan-pelan meraih kontolnya, ya ampun tanganku tak muat mengenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. “Ayo Nes, emutin kontolku” katanya. Kubimbing kontol dalam genggamanku ke mulutku , uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain mengemut tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati biji pelirnya. “Uaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati emutanku, sementara tangannya yang bercokol di toketku sedang asyik memelintir dan memencet pentilku. Tangan kanannya tetap saja mempermainkan nonok dan itilku. Aku menggelinjang gak karuan, tapi kontolnya tetap saja aku emut. Aku hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutku penuh dengan kontolnya yang besar. “Nes, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen menikmati nonok kamu”, katanya. Dia menelentangkanku, ikatan braku dilepasnya dengan sekali tarikan. Dia mengambil posisi ditengah kangkanganku, kontolnya yang besar dan keras diarahkannya ke nonokku yang sudah makin basah. Aku menggeliat2 ketika kurasakan betapa besarnya kontol yang menerobos masuk nonokku pelan2. Nonokku berkontraksi kemasukan kontol gede itu. “Nes, nonok kamu peret banget”, katanya sambil terus menekan masuk kontolnya pelan2. “Abis kontol kamu besar sekali. nonok Ines belum pernah kemasukan yang sebesar kontol kamu, masukin terus Juan, nikmaat banget deh rasanya”, jawabku sambil terus menggeliat. Setengah kontolnya telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh kontolnya telah ada di dalam nonokku. Aku hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami kenikmatan tiada tara. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat karena enjotannya makin lancar. Terasa nonokku mengencang meremas kontolnya yang nikmat banget itu. Tangannya mulai bergerilya ke arah toketku. ToketKu diremas perlahan, seirama dengan enjotan kontolnya di nonokku. Aku hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, pinggulku mengikuti goyangan pinggulnya. Kontolnya terus saja dikeluar masukkan mengisi seluruh relung nonokku. Sambil mengenjotkan kontolnya, dia mengemut pentilku yang keras dengan lembut. Dimainkannya pentil kanan dengan lidahnya, namun seluruh permukaan bibirnya membentuk huruf O dan melekat di toketku. Ini semua membuat aku mendesah lepas, tak tertahan lagi. Dia mulai mempercepat enjotannya. Aku makin sering menegang, dan merintih, “Ah… ah…” Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens, aku menjambak rambutnyya, “Aaahhh Juan, Ines nyampee,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutku. Aku udah nyampe. Tanganku yang menjambak rambutnya itu pun terkulai lemas di pundaknya. Dia makin intens mengenjotkan kontolnya. Bibirku yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun dilumatnya, dan aku membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kanannya tetap berada ditoketku, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan pentilku. Terasa nonokku mencengkeram kontol gedenya. “Uhhh,” dia mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, kontolnya menghujam keras ke dalam nonokku, mengiringi ngecretnya pejunya. Tepat saat itu juga aku memeluknya erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahhh”. Kemudian pelukanku melemas. Aku nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejunya.

Setelah dengusan napas mereda, dia mencabut kontolnya dari nonokku dan terkapar disebelahku. “Juan, kontol kamu lemes aja udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget. Bener kata temen Ines, makin gede kontol yang masuk, makin nikmat rasanya”, kataku. “Memangnya kontol yang biasanya masuk ke nonok kamu kecil2 ya Nes”, tanyanya. “Gede2 sih Juan, tapi gak ada yang segede kontol kamu, tapi nikmat banget deh”, jawabku sambil menguap. “Iya Nes, aku sering ngentot dengan perempuan Indonesia, tapi dengan kamu yang paling nikmat. Nonok kamu kenceng sekali njepit kontolku dan empotannya luar biasa”, katanya memuji. Aku cuma tersenyum, Tak lama
kemudian aku terlelap. Aku terbangun karena hpku berbunyi, ternyata sms dari pak Anto yang memberi tahu bahwa dia tidak bisa kembali ke Denpasar malem ini. Kembalinya besok sekitar makan siang, terus kita cek out dan harus ke bandara untuk nguber pesawat ke Jakarta. Gak masalah, karena aku sudah mendapat penggantinya. Aku memberi tau Juan mengenai hal ini. “Ayo mandi, abis itu kita cari makan”, katanya sambil bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Gak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan giliranku untuk membersihkan diri. Setelah rapi berpakaian, dia mengajakku keluar, ternyata sudah gelap. Dia mencari tempat makan yang romantis ditepi laut, Habis makan dia mengajakku ke pub untuk melewatkan malam. Lewat tengah malam baru kami kembali ke hotel.

Aku membuka pakaianku dan hanya mengenakan daleman yang tipis berbaring diranjang, diapun segera melepas pakaiannya meninggalkan cd nya saja dan berbaring disebelahku. kemudian tangannya mulai meremas-remas pantatku dengan gemas. setelah itu tangannya mulai menyusup ke dalam cdku dan meremas kembali pantatku dari dalam. Kemudian, dia mengangkat satu kakiku
dan menahannya selagi tangan satunya meraih nonokku. “Ohh.. Juan,” rintihku. kurasakan napsuku mulai naik, Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang nonokku yang mulai basah. Nafasku juga mulai cepat dan berat. ia membuka cdku dan membuka lebar-lebar pahaku sehingga nonokku
terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. Dengan sigap tangannya kembali meraih nonokku dan meremasnya. Dia menjilati telingaku ketika tangannya mulai bermain diitilku. Napsuku sudah tak tertahankan lagi. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku. Dia terus menekan-nekan itilku dari atas ke bawah. aku meracau tak karuan. “Ahh.. Shh.. Juan” desahku bernafsu. Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan menekan itilku dengan berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku nyampe. “Juan, nikmat banget, belum dientot saja sudah nikmat,” desahku, tanganku meremas tangannya yang sedang bermain di itilku dengan bernafsu. Di luar perkiraanku, dia malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Dia merentangkan kedua pahaku. Kurasakan jilatan lidah di bibir nonokku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan itu menjalar ke itilku, kurasakan gigitan lembut di itilku yang kian
merangsang napsuku. Aku melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh dia untuk terus dan tak berhenti. Melihat reaksiku, dia terus menggesekan jarinya di liang nonokku yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-enerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Tak lama kemudian, nonokku mengeluarkan cairan deras bening, aku nyampe untuk kedua kalinya. “Juan, ooh”, lenguhku. Dia membuka braku dan meremas toketku dengan sangat keras. Aku melenguh, kemudian pentilku yang menjadi sasaran berikutnya, dipilin dan dicubitnya pelan. Napsuku kembali berkobar, nonokku kembali membasah, “Juan, entotin Ines sekarang, Ines udah napsu banget Juan”, erangku. Diapun mencopot cdnya, kontol besarnya sudah ngaceng berat mengangguk2. Dia menggesekkan kepala kontolnya ke bibir nonokku yang sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidahnya di nonokku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihan keras kenikmatan. “Ahh! Juan.. Ohh.. entotin Ines” racauku.

Dengan perlahan Juan memasukkan kepala kontol ke dalam nonokku, segera dia menyodok-nyodok kontolnya dengan kuat dan keras di nonokku. Rasanya nikmat sekali. Dia mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya nonokku. Kontolnya yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam nonokku hingga membuatku nyampe lagi. “Juan, Ines nyampe
Juan, aakh nikmatnya”, erangku. Kemudian dia membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan kontolnya ke dalam nonokku dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding nonokku yang masih sensitif. “Oh Ines.. nonokmu bagaikan sorga”. Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, dia ngecret didalam nonokku. Pejunya terasa dengan kuat menyemprot dinding nonokku. Dia menjerit-jerit nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas toketku dan menarik-narik pentilku. Setelah reda, dia berbaring di sebelahku dan menjilati pentilku. Pentilku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya dia ingin membuatku nyampe lagi. Tangannya kembali menjelajahi nonokku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam nonokku. Dia menekan-nekan dinding nonokku. Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan dia tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah G-Spot. Aku tidak bertahan lama
dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badanku mengejang dan nonokku kembali berlendir. “Juan nikmat banget deh malem ini”, kataku. Pinter banget dia merangsang aku dan membuat aku nyampe, baik pake kontolnya maupun pake jarinya. Segera akupun tertidur kelelahan.

Ketika kau terbangun hari udah siang, Juan masih saja mendengkur disampingku. Aku bangun ke kekamar mandi untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi. Ketika kembali ke ranjang dia masih saja mendengkur. Aku ngintip dibalik korden kamar, matahari udah tinggi juga. Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 lewat. Korden kusibakkan, dia terbangun karena silau, matanya dipicingkan untuk mengurangi silaunya sinar yang masuk kamar. Kulihat kontolnya sudah tegak seperti tiang bendera. Dia ke kamar mandi, terdengar kloset berbunyi, rupanya dia kencing. gak lama lagi terdengar dia menyikat gigi. Ketika dia kembali ke kamar, aku udah berbaring di ranjang lagi
menantikan serangan pagi. Aku melihat kontol besarnya masih aja ngaceng dengan kerasnya walaupun dia udah kencing. Dia duduk disampingku dan mencium bibirku. “Pagi sayang, kita main lagi yo”, ajaknya. Kembali dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan
cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahaku. nonokku digelitik-gelitik.
Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. “Hmmhhh…enak, Juan.” jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang nonokku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya. Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai kontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di nonokku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang lumayan gede, kecoklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai Aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidah nya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat. Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir nonokku mengalir dan terasa basah di perutku. “Juan, gantian Ines yang ngemut kontol kamu ya”, kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang kontolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, “Enak Nes, terus..” Lidahku mulai merambat ke kepala kontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang kontolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya. “Nes…” gumamnya pelan. “enak banget, geli-geli nikmat”. Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan kontolnya masuk ke dalam mulutku. Kontolnya kuisep kenceng-kenceng, lalu dengan mulut kukocok kontolnya turun naik, “uuuuggggghhhh…sedap .enak…mmmmhhhh…”, erangnya. Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati nonokku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya menyedot lubang nonokku, menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke dalam lubang nonokku, menjilati dinding-dinding basah, sementara jari nya mempermainkan itilku. Aku mengerang-ngerang dengan kontolnya di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari nonokku membajir membasahi mukanya. Aku melepaskan kontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu kontolnya masuk, aku hanya merintih pelan. Kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung merangsang itilku. Kocokan kontol di nonokku dan kilikan jarinya di itilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali nonokku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok kontolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan nonokku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret lagi.”Juan, nikmat banget pagi ini, lebih nikmat dari semalem, aku sampe berkali2 nyampe baru kamu ngecret”, lenguhku lemes. Dia mencabut kontolnya dari nonokku dan memesan agar makan pagi dikirim ke kamar untuk 2 orang.

Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ketika aku sedang membilas badanku terdengar bel pintu, pasti makan pagi sudah siap. Selesai mandi aku keluar, makan pagi sudah tersedia di meja, Juan sedang menikmati makan paginya. Segera aku nimbrung. Selesai makan, aku pamit kembali ke kamarku. “Sudah waktunya aku untuk beberes dan menunggu bosku datang”,
kataku. Dia memelukku, “Terima kasih untuk malam yang indah bersamamu. Jangan lupa untuk kontak aku kalo ada kesempatan agar kita bisa mengulangi kenikmatan ini”. Dia menciumku, lama sekali. Di kamarku aku beberes barang2 ke koper. Ketika pak Anto datang aku sudah beres, aku membantu pak Anto membereskan barang2nya. “Sori ya Nes, acara kita jadi berantakan nih”, katanya minta maaf. “Gak apa kok pak, Ines bisa ngisi waktu sendiri kok, yang penting biar gak bete”, jawabku. Dia tidak bertanya lebih lanjut aku ngapain ketika dia ke Mataram. Kemudian kita check out dan menuju bandara.
Setelah cek in, baru kita mencari makan siang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar